Petuah Kepenulisan dari Tere Liye

by - Desember 04, 2020

#DAY1
Sekitar 7 tahun lalu, saya pernah mengikuti seminar kepenulisan dengan pemateri Bang Tere Liye. Seingat saya LDK UB yang mengadakan. 

Beruntung sekali hari ini, saya dapat kembali bertemu beliau secara virtual dengan mengikuti Sedaring Nasional yang diinisiasi oleh Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Sriwijaya.

Sebelum masuk ke materi utama, Bang Tere mengomentari seputar acara ini. Acara Sedaring Nasional menurut beliau terlalu berteori. Karya sastra dibedah dengan berbagai teori. Memang ada cukup banyak karya sastra lama yang bisa dianalisis menjadi sebuah penelitian.

Namun, setiap Bang Tere Liye mengisi acara kepenulisan, terutama di fakultas Sastra Indonesia di banyak kampus se-Indonesia, selalu ditanyakan bagaimana teori sastra dan semacamnya.

Beliau adalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kalau teman-teman bertanya mengenai akuntansi, beliau bisa menjawab teorinya. Kalau bertanya teori sastra mohon maaf beliau tidak bisa menjelaskan.

Memasuki materi inti, Bang Tere membagikan beberapa nasihat kepenulisan. Ada lima poin penting yang disampaikan seputar kepenulisan.


Pertama, tentukan niat dan alasan menulis.


Menulis untuk kaya? Boleh.
Menulis agar terkenal? Boleh.
Menulis agar bisa jalan-jalan dan diundang di mana-mana? Boleh juga.


Bagi Bang Tere, menulis adalah meninggalkan warisan peradaban. Jadi, pastikan niat-niat menulis kita adalah niat yang baik dan mulia.


Kedua, ide didapat dari mana saja. 


Kita sering bertanya, "Dari mana saya harus cari ide yang bagus?" Jawabannya ada pada kepekaan diri. Pekalah terhadap aekitarmu. Lalu, ekspresikanlah ke dalam sebuah tulisan.

Peka membaca situasi, peka membaca alam, peka membaca percakapan dengan orang lain, peka ketika membaca buku, dan peka dalam kondisi apa pun. Ini perlu latihan terus-menerus dan tidak instan.

Kalau sudah ditulis, sebarkan tulisan melalui blog atau media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain. Dapatkan feedback di sana. Kalaupun tidak ada yang membaca, menyukai, atau berkomentar, jadikan tulisanmu sebagai portofolio yang nantinya akan dikenang ketika kamu sudah bisa menulis artikel yang nangkring di koran atau sudah bisa menulis sebuah buku. 

Ketiga, cara memulai menulis adalah mulai menulis.


Pertanyaan ketiga yang sering ditanyakan adalah bagaimana cara menulis yang baik. Jawaban Bang Tere singkat, padat, dan jelas. Kalau mau menulis ya menulis saja. Sesimpel itu. Kalau ada laptop, buka laptopmu, tulis. Kalau nggak ada laptop, biasanya setiap kita punya gawai. Buka gawai, tulis.


Dalam menulis, kuasai tiga pijakan menulis, yaitu kata, kalimat, dan paragraf.  Di dalam kata ada kata kerja, kata benda, kata kerja, kata sifat, dan lain-lain. Dalam kalimat ada kalimat majemuk dan sebagainya. 

Kalimat yang baik adalah kalimat yang efektif sehingga sampai maksud dan pesannya kepada pembaca. Adapun paragraf diciptakan agar tulisan enak dibaca karena ada jeda. Kita bisa mengatur ritme pembaca. Apa kuncinya? Latihan.

Keempat, menulis adalah proses belajar terus-menerus.

Cobalah untuk menulis tulisan yang pendek, tetapi bertenaga. Mulai menulis 1.000 kata per hari. Sebar tulisan di blog atau media sosial. Setelah enam bulan, coba kirim ke media massa atau media elektronik. Setelah itu kamu boleh mulai menulis buku. Itulah langkah demi langkah yang Bang Tere tempuh dalam karier kepenulisannya.

Kelima, cara menaklukkan penerbit adalah tidak berhenti mengirimkan naskah.


Terus saja kirim naskahmu, kalau ditolak, terus perbaiki. Menulis adalah proses panjang dan penulis harus tahan banting dengan semua prosesnya. Kabar baiknya, menulis tidak harus menjadi profesi utama, bisa menjadi sampingan.

Marilah memperbanyak mencipta karya sastra agar kelak dijadikan objek bahasan. Menulis bisa dijadikan karier. Semoga ke depan, pemimpin kita semakin sadar akan pentingnya literasi karena literasi adalah tiangnya peradaban. Peradaban diwariskan melalui tulisan, bukan ujaran lisan.

Maka, secanggih apa pun teknologi di masa depan, konten dari tulisan tetaplah utama dan terpenting. Hal tersebut tidak dapat digantikan oleh mesin sampai kapan pun.

Berikut adalah ulasan jawaban Bang Tere dari beberapa pertanyaan yang masuk 

1. Kelas menengah semakin banyak, artinya pembaca buku semakin banyak. Mereka pemilih. Maka, tulislah tulisan yang menarik.
2. Per 2020, regulasi terkait PPN buku dihapuskan.
3. Pemerintah bisa memberi BLT membeli buku kepada setiap anak SMA di Indonesia.
4. Perpustakaan RI bisa berlangganan 1.000 atau 10.000 eksemplar tiap ebook sehingga masyarakat yang ingin membaca bukh tidak harus antre meminjam.
5. Kurangi membeli bajakan karena bisa mematikan industri perbukuan. Kalaau industri perbukuan mati, kita akan kehilangan kesempatan menikmati tulisan bermutu.

Pesan utamanya adalah bagaimana meninggalkan warisan kebudayaan dan peradaban sehingga sekian puluh tahun atau sekian ratus tahun dari hari ini, karya kitalah yang dibedah dan dibahas oleh generasi selanjutnya.

Menulis adalah perjalanan panjang yang butuh komitmen.
Jadi, siapkah menjadi pewaris peradaban melalui tulisan?

#1M1C #latepost #03122020 #TereLiye #SedaringNasional #kepenulisan #penulismuda #penulisnovel #penulisbuku #penulisan2u #penulispemula #penuliswattpad #penulisedan #penuliskalem #lingkarpenulis #penulisan

 

You May Also Like

10 komentar

  1. Jujur, waktu duluuu, pertama kali denger nama Tere Liye, aku kira orang itu adalah perempuan lho, haha..

    Seru sekali ya kak bisa ikut kelasnya bang Tere, dapet banyak belajar petuah-petuah bijak beliau, so lucky u are!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, terima kasih, Kak. Alhamdulillah. Ya nggak sengaja ada yang share poster seminar Bang Tere Liye. Jadinya ikutan deh. Selalu berisi kalau sama Bang Tere.

      Hapus
  2. aq aneh baca bang tere karena selalu mikirnya dia itu perempuan ingetnya sama penyanyi tere, hahaha, makasih sudah sharing ilmunya bang tere yah mas, 5 pointnya penting banget buat yang ingin rajin nulis kaya aq.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya awalnya juga ngira gitu, tapi pas ketemu pertama kali beberapa tahun lalu, saya jadi tahu kalau beliau cowok dan nama aslinya Darwis. Semangat terus nulisnya, Kak.

      Hapus
  3. Sepertinya harus selalu mengasah kepekaan nih agar lebih lancar nulis. Makasih tulisannya bermanfaat sekali 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Kak. Kalau peka biasanya lebih mudah menuangkan dalam tulisan. Jadi, apa pun yang dilihat, didengar, dirasa bisa jadi bahan tulisan.

      Hapus
  4. Tulisan Tere Liye memang tak jauh dari kehidupan sehari-hari, ide sederhana tetapi menghasilkan karya yang menurutku luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, bener banget. Nggak selalu tentang cinta menye-menye ya, Kak. Ada kritik-kritik juga yang disampaikan lewat karyanya.

      Hapus
  5. wah aku suka banget sama tulisan bang tere dari jaman kuliah.
    semua yang ditulis bang tere selalu mengena di hati
    dengan bahasa yang sederhana dan mudah di pahami

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. :)